Rabu, 25 Maret 2015

Nilai Rp. 10.000


Hari itu adalah hari senin tanggal 25 maret 2015 ketika saya, istri dan teman-teman di tugaskan untuk menginjil keluar dengan mengedarkan majalah Berita Keselamatan. dari daerah salembah kami naik angkot menuju pasar baru dan dari pasar baru kami lanjut lagi dengan berjalan kaki menuju arah jalan asam reges dimana di sana ada langganan majalah saya yang sudah menanti tiap bulan kedatangan saya. Bersyukur kepada Tuhan pelayanan saat itu diberkati oleh Tuhan. ketika kami pulang dari tempat tersebut saya melihat dari kejauhan sesosok orang tua yang duduk dan termenung di seberang jalan sepertinya tak mempunyai pengharapan, semakin dekat semakin jelas bahwa memang orang tua tersebut sangatlah memprihatinkan. kakinya tidak bisa di gerakkan atau orang tersebut tidak bisa jalan. saat saya dan istri melewati orang tersebut, saya memandangnya dan ia pun melihat saya. saat saya mengarahkan pandangan saya hati saya rasanya gemetar yang menimbulkan pertayaan......mengapa hal itu terjadi Tuhan....? saya terus berjalan dan memandangi orang itu, sementara istri saya terus berjalan dan memanggil saya sebab istri saya tidak mengetahui apa yang saya rasakan saat itu. saya terus memandangnya sambil berjalan tetapi orang tersebut mulai bergerak menggesekkan bokongnya di jalan. Pada saat saya melihat hal itu, langkah saya mulai terhenti karena orang tersebut melambaikan tangannya dari seberang jalan...... dan sayapun bergerak menghampiri orang tersebut....Tuhan tolonglah orang ini....(dalam hati saya berkata)...... saat itu saya tidak mempunyai apa-apa untuk saya berikan kepada orang tersebut, yang ada hanya uang dari hasil pengedaran majala Berita Keselamatan. saya termenung dan tak tau harus berbuat apa.....ketika istri saya melihat saya menghampiri orang tersebut, istri saya pun berhenti dan berkata...."papi kenapa".... lalu saya mengarahkan pandangan pada istri saya dan berkata dalam bahasa daerah..."na' ria doi mu tina wasti"...(ada uangmu mama wasti). saya sengaja berbahasa daerah biar orang-orang tidak mengetahuinya termaksud orang tua tersebut. Lalu istri saya menjawab dengan nada halus..... "ada tapi cuman Rp10.000"......lalu saya mengambil uang tersebut dan memberikannya kepada orang tua itu dan kagetnya lagi orang tua itu tidak bisa bicara...mungkin dia mau bilang terima kasih tapi yang keluar dari mulutnya hanya suara...."hahhmmhmmm"... (bisu). ketika saya dan istri meninggalkan orang tua itu.....di jalan saya terus berpikir mengapa hal semacam itu bisa terjadi ya......? tetapi dalam perenungan saya bahwa saya harus bersyukur atas kesempurnaan yang Tuhan berikan walaupun saya tidak mampu untuk membalas kebaikan Tuhan pada saya, isteri dan anak saya.... Trima kasih Tuhan buat semuanya dan terima kasih Tuhan karena saya bisa melakukan sebagian kecil perbuatan baik walaupun hanya dengan nilai Rp10.000.

Hidup di dalam Tuhan

Hidup di dalam Tuhan
Yeremia 13:1-11

Rancangan Allah bagi orang percaya adalah menjadi ternama, terpuji, dan terhormat. Akan tetapi kita seringkali justru gagal dalam menerima hal tersebut. Kegagalan tersebut disebabkan karena kita tidak hidup benar dan tidak hidup di dalam Tuhan. Peragaan nubuat yang dilakonkan Yeremia dengan ikat pinggang yang lapuk dengan jelas menggambarkan situasi Yehuda yang hidup di luar Tuhan. Awalnya mereka adalah umat yang ternama,terpuji, dan terhormat karena mereka hidup di dalam Tuhan, akan tetapi kemudian berubah karena mereka hidup dengan kesombongan dan ketidaktaatan mereka sehingga merekapun mendapat hukuman dari Allah.
Oleh karena itu sebagai umat Allah , kita harus hidup di dalam Tuhan. Mengapa kita harus hidup di dalam Tuhan? Kita harus hidup di dalam Tuhan supaya menerima keuntungan-keuntungan seperti yang tertulis dalam Yeremia 13:1-11, yakni:

1.      Supaya keadaan kita tetap baik (ayat 7)
Allah menginginkan umat-Nya supaya hidup dalam keaadaan yang baik, oleh karena itu Ia ingin supaya umat-Nya hidup di dalam-Nya. Ini berarti jika kita tidak hidup dekat Tuhan maka kita akan rusak. Rusak kepribadian kita, rusak moral kita, dan bahkan rusak kerohanian kita karena kita tidak lagi hidup seturut dan dikontrol oleh Firman Tuhan. Contoh yang paling menonjol dalam kehidupan dunia saat ini adalah pemerkosaan keadilan, yakni membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.  Pemerkosaan keadilan merupakan cermin rusaknya kepribadian kita, rusaknya moral kita, dan rusaknya  kerohanian kita. Kita berohani tapi rohani yang palsu sehingga moral kita menjadi rusak dan kepribadian kita menjadi semakin meningkat karena menjadi pribadi yang bermuka dua. Saudaraku, kita adalah orang-orang yang telah memberikan hidup kita kepada Tuhan, jadi jangan biarkan keadaan hidup kita menjadi rusak.  Oleh sebab itu tetaplah hidup di dalam Tuhan dengan Tuhan.

2.      Supaya kita tidak dimusnahkan (ayat 9)
Kecenderungan manusia ialah  jika ada suatu barang yang sudah rusak dan tidak berguna lagi, maka pasti akan dibuang atau dimusnahkan. Allah pun berkata bahwa Ia akan menghapuskan segala kecongkakbongakan Yehuda dan Yerusalem karena mereka tidak mau lagi hidup berkenan bagi Tuhan, dimana mereka sudah berulang kali diperingati untuk bertobat akan kesalahan mereka tetapi mereka tetap mengikuti kebenaran dirinya sendiri (congkak-bongak) dan tidak taat pada kebenaran Firman. Saudaraku, hal yang sama juga akan terjadi dalam kehidupan kita apabila kita tetap hidup dan melayani mengikuti kebenaran diri sendiri  dan tidak mau taat atau hidup pada kebenaran Firman Tuhan. Oleh karena itu tetaplah hidup di dalam Tuhan supaya kita tidak dimusnahkan sehingga nama kita akan tetap tercatat menjadi anak Allah dan menjadi ahli waris Kerajaan-Nya.

            Jadi saudaraku, sebagai orang-orang yang telah menerima keselamatan, tetaplah hidup di dalam Tuhan supaya kita menerima keuntungan-keuntungan, yakni: Supaya keadaan kita tetap baik dan kita tidak dimusnahkan. Amin